Welcome to My Website

Sabtu, 24 Mei 2014

Tanah Longsor

Pengertian tanah longsor sebagai respon dari pada yang merupakan factor utama dalam proses geomorfologi akan terjadi di mana saja di atas permukaan bumi, terutama permukaan relief pegunungan yang berlereng terjal, maupun permukaan lereng bawah laut. Tanah longsor didefinisikan sebagai tanah longsor batuan atau tanah di atas lereng permukan kearah bawah lereng bumi disebabkan oleh gravitasi/gaya berat (Nelson, S, A., 2004). 

Didaerah yang beriklim tropis termasuk Indonesia, air hujan yang jatuh keatas permukaan tanah memicu gerakan material yang ada diatas permukaan lereng. Material berupa tanah atau campuran tanah dan rombakan batuan akan bergerak kearah bawah lereng dengan cara air meresap kedalam celah pori batuan atau tanah, sehingga menambah beban material permukaan lereng dan menekan material tanah dan bongkah-bongkah perombakan batuan, selanjutnya memicu lepas dan bergeraknya material bersama-sama dengan air (Karnawaty, D., 2005).

-Klasifikasi Tanah Longsor 

Tanah longsor yang disesuakan dengan dasar klasifikasi yang dipergunakan masing-masing ahli, berikut ini dijelaskan nama-nama klas gerakan tanah yang umum dipakai (Ritter, 1986):

Tanah Longsor tipe jatuhan(‘falls’) 

Tanah longsor tipe ini, material batuan atau tanah atau campuran keua-duanya bergerak dengan cara jatuh bebas karena gaya beratnya sendiri. Proses tanah longsor semacam ini umumnya terjadi pada lereng terjal , bisa dalam bentuk bongkah individual batuan berukuran besar atau dalam bentuk guguran fragmen bongkah bercampur dengan bongkah-bongkah yang berukuran lebih kecil.

Tanah Longsor tipe robohan (‘Toples’) 

Gerakan massa tipe robohan hampir serupa dengan tanah longsor tipe falls, pada tipe topples ini gerkannya dimulai dengan bagian paling atas dari bongkah lepas dari batuan dari batuan induknya karena adanya cela retakan pemisah, bongkah terdorong kedepan hingga tidak dapat menahan bebannya sendiri.

Tanah longsor tipe gelincir(‘slides’) 

Tanah longsor tipe gelincir adalah tanah longsor bantaun atau tanah atau campuran keduanya yang bergerak melalui bidang gelincir tertentu yang bertindak sebagai bidang diskontinuitas, berupa bidang perlapisan batuan atau bidang sesar /patahan, bidang kekar, bidang batas pelapukan. Jika bidang-bidang diskontinuitas tersebut sejajar dengan bidang perlapisan, maka semakin besar peluang terjadinya tanah longsor.

Tanah Longsor Tipe Aliran (‘Flows’) 

Tanah longsor tipe aliran adalah tanah longsor tanah atau tanah bercampur dengan bongkah-bongkah batuan bergerak pada saluran tertentu yang disebabkan massa tanah yang kehilangan daya rekatnya karena penjenuhan oleh air meresap kedalam tanah sangat banyak karena intensitas hujan yang sangat tinggi dan lama atau pencairan gletser didaerah yang beriklim dingin.

Tanah Longsor Tipe Rayapan 


Gerakan tipe tanah rayapan (‘creep’) adalah tanah longsor yang bergerak sangat lambat, gerakanya tidak spontan (tidak mendadak), gerakan ini hanya dikatahui dari retakan pada agungan permanen, tiang listrik pohon-pohon miring condong kearah bawah lereng.



Longsoran tanah tipe aliran cepat (rapid flowage) terdiri dari :

  • Aliran lumpur (Mudflow) : perpindahan dari material lempung dan lanau yang jenuh air pada teras yang berlereng landai.
  • Aliran masa tanah dan batuan (Earthflow): perpindahan secara cepat dari material debris batuan yang jenuh air.
  • Aliran campuran masa tanah dan batuan (Debris avalanche): suatu aliran yang meluncur dari debris batuan pada celah yang sempit dan berlereng terjal.
Longsoran tanah tipe luncuran (landslides) terdiri dari :
  • Nendatan (Slump): luncuran kebawah dari satu atau beberapa bagian debris batuan, umumnya membentuk gerakan rotasional.
  • Luncuran dari campuran masa tanah dan batuan (Debris slide): luncuran yang sangat cepat ke arah kaki lereng dari material tanah yang tidak terkonsolidasi (debris) dan hasil luncuran ini ditandai oleh suatu bidang rotasi pada bagian belakang bidang luncurnya.
  • Gerakan jatuh bebas dari campuran masa tanah dan batuan (Debris fall): adalah luncuran material debris tanah secara vertikal akibat gravitasi.
  • Luncuran masa batuan (Rock slide): luncuran dari masa batuan melalui bidang perlapisan, joint (kekar), atau permukaan patahan/sesar.
  • Gerakan jatuh bebas masa batuan (Rock fall): adalah luncuran jatuh bebas dari blok batuan pada lereng-lereng yang sangat terjal.
  • Amblesan (Subsidence): penurunan permukaan tanah yang disebabkan oleh pemadatan dan isostasi/gravitasi.


-Faktor-faktor Penyebab dan Pemicu Tanah Longsor 
Selain dari pada factor gaya gravitasi sendiri, tanah longsor material batuan atau tanah yang terletak di atas lereng dipengaruhi oleh factor antara lain :

1. Kemiringan lereng; semakin besar sudut lereng semakin besar pula daya dorong disebabkan meningkatnya tegangan geser (shearing stress) berbanding terbalik dengan tegangan normal (normal strength) berupa kekuatan penahan.

2. Litologi ; tergantung mudah/tidaknya batuan mengalami pelapukan, besar/kecilnya porositas atau permeability, semakin mudah batuan melapuk semakin mengurangi kohesi dan kekuatan batuan penyusun kondisi stratigrafi batuan, terutama jika lapisan batuan keras berselang seling dengan lapisan batuan lunak, maka batuan yang lunak dapat menjadi factor penyebab tanah longsor.

3. Struktur geologi dan batuan; Zona sesar merupakan zona batuan yang mengalami penghancuran disebabkan pergeseran bolak-blok batuan pada bidang patahan, pada sona sesar tersebut daya tahan menjadi lemah, sehingga lebih mudah mengalami proses pelapukan, erosi dan tanah longsor. Bidang permukaan sesar, lapisan batuan, kekar, retakan, zona bidang batas soil dan batuan dasar, kontak batuan merupakan biadang diskontinuitas, dapat menjadi bidang gelincir apaila arah kemiringanya searah dengan kemiringan lereng.

4. Kandungan air pori; tinggi rendahnya permukaan air tanah (water table), terhadap bidang diskontinuitas dan permukaan lereng juga merupakan salah satu factor pendorong terjadinya gesekan massa.

Beberapa macam kondisi yang dapat memicu terjadinya proses tanah longsor, antara lain:

1. Infiltrasi air kedalam lereng

Di Negara-negara yang beriklim tropis dengan intensitas hujan tinggi pada musim hujan, dan pada daerah yang memiliki batuan yang mudah menyerap dan meloloskan air kedalam batuan atau tanah menyebabkan pula daya dorong air terhadap material permukaan lereng, yang bias menjadi pemicu terjadinya tanah longsor berskala besar.

2. Pembebanan lereng

Di daerah-daerah padat penduduk, lahan yang berada diatas lereng menjadi target untuk dijadikan tempat tinggal, menyebabkan perubahan maksimal aliran run off dan aliran air bawah tanah, dan menambah berat beban permukaan lereng, juga dapat memicu terjadinya tanah longsor.

1. Perubahan fisik lereng

Penggalian untuk pembuatan dan pelebaran jalan, penggalian bahan bangunan, penggundulan, pemabakaran hutan, getaran mesin industry dan mesin angkutan, akan merubah struktur batuan dan tanah, hal ini juga dapat menjadi pemicu terjadinya tanah longsor.


2. Getaran gempa bumi, letusan gunung api, banjir, longsoran glister, tsunami juga dapat menjadi factor pemicu terjadinya tanah longsor . tetapi paktor utama terjadinya tanah longsor adalah gaya berat.

Resiko Longsor

Pada kondisi lereng yang stabil massa lapisan tanah atas mampu ditahan oleh kohesi antar partikel tanah topsoil, adhesi lapisan topsoil dan bedrock. Jika terdapat vegetasi pada lapisan tanah atas, akar-akar vegetasi yang ada juga mampu menahan gayagravitasional oleh massa tanah akibat terdapat slope atau kemiringan.

Sementara itu, pada lereng yang diakibatkan oleh aktivitas manusia, stabilitas dapat diperoleh dengan membangun turap, lining, retaining wall, dan sebagainya. Namun tanpa sadar seringkali manusia melakukan kesalahan dengan merubah kondisi asal lereng, dengan menambah massa pada lapisan topsoil, seperti mendirikan bangunan-bangunan maupun merubah vegetasi asli. Atau dengan kata lain, merubah fungsi lahan tanpa melakukan treatment yang dapat mengantisipasi perubahan kondisi lereng tersebut, sehingga menjadi tidak stabil.

Lapisan topsoil atau seringkali disebut sebagai disturbed soil merupakan tanah campuran yang terdiri dari endapan, bahan organic ataupun hasil pelapukan lapisan dibawahnya, sehingga kondisinya heterogen. Vegetasi yang tumbuh di atas lapisan tanah ini, juga membuat pori-pori tanah menjadi besar. Tanah permukaan biasanya ditemui dalam kondisi loose atau berbutir tanpa ikatan antar butir tanah yang kuat. Sehingga, pada saat terjadi hujan dengan durasi pendek, tanah dengan pori-pori besar mampu menyerap air dengan sangat baik. Namun, jika hujan terjadi dengan intensitas yang tinggi dangan durasi yang lama, maka tanah menjadi jenuh air, sehingga kohesi antar butir tanah menjadi semakin kecil.


Selain itu, nilai kohesi tanah juga turun dan tanah yang telah jenuh dengan air tidak mampu lagi menyerap air hujan. Sehingga, air hujan akan berubah menjadi limpasan atau aliran permukaan. Pada lereng yang curam, air yang melimpas tersebut memiliki gaya yang cukup untuk mengangkut butir-butir tanah atau sering disebut erosi. Ditambah lagi, apabila lapisan tanah ini terletak pada lapisan batuan yang sejajar dengan bidang gelincir, maka kemungkinan terjadi longsor menjadi semakin besar.

Jenis tanah juga memiliki pengaruh besar, karena tiap jenis tanah memiliki sudut gelincir yang berbeda. Sudut gelincir ini menentukan besarnya sudut maksimum yang mampu dibuat oleh suatu jenis tanah yang masih dapat dikatakan stabil. Selain itu, faktor penggunaan lahan juga memiliki peran terkait dengan stabilitas lereng. Makin cepat laju perubahana fungsi lahan dan pembukaan hutan, resiko longsor yang ditimbulkan semakin besar.

Kamis, 15 Mei 2014

Geological Relationship (Hubungan-hubungan geologi)

Yang dimaksud dengan hubungan geologi adalah posisi/ letak antar tubuh-tubuh batuan yang berlainan satu terhadap yang lain, terutama dalam hal hubungan umur dan urut-urutan kejadian, sehingga suatu sejarah geologi dapat disusun.

Memahami hubungan geologi ini sangat penting dalam mempelajari keadaan geologi suatu daerah, terutama dalam hal memproyeksikan mengenai kemungkinan adanya endapan-endapan yang berharga dalam suatu daerah ataupun untuk kepentingan teknik sipil. Hubungan ini didapatkan terutama pada penyelidikan-penyelidikan lapangan yang dinyatakan dalam bentuk peta geologi, penampang ataupun kolom stratigrafi.

Beberapa Prinsip dalam Stratigrafi yang perlu Diketahui.

Ø Prinsip Superposisi (Steno).

Dalam keadaan normal suatu lapisan sedimen yang berada di atas lapisan sedimen lainnya selalu berumur lebih muda dari pada lapisan sedimen di bawahnya.

Dalam suatu uruan perlapisan, lapisan yang lebih muda adalah lapisan yang berada diatas lapisan yang lebih tua. “pada waktu suatu lapisan terbentuk (saat terjadinya pengendapan), semua massa yang berada diatasnya adalah fluida, maka pada saat suatu lapisan yang lebih dulu terbentuk, tidak ada keterdapatan lapisan diatasnya.” Steno, 1669

Note : pada prinsipnya lapisan-lapisan sedimen diendapkan secara horisontal (walaupun ada kekecualian karena kemiringan asal). Kelainan dari kedudukan horisontal ini disebabkan karena pengaruh tektonik, seperti perlipatan dan pemiringan.


Ø Prinsip Perlapisan dan Kesamaan Waktu.

Suatu bidang perlapisan diendapkan pada waktu yang bersamaan dan merupakan permukaan isochron.

a. Korelasi.

Garis yang menghubungkan kesamaan/keterusan lapisan dari dua atau lebih tempat-tempat yang berlainan.

b. Perubahan Fasies. Sepanjang perlapisan/lapisan litologi dapat berubah, yang disebut perubahan fasies, yang disebabkan perbedaan lingkungan pengendapan pada tempat-tempat yang berlainan. Namun litologi yang berbeda ini tetap diendapkan pada waktu yang bersamaan.
KORELASI
Menghubungan bidang perlapisan atau bidang kesamaan waktu ,
meneruskan lapisan dari satu tempat ke tempat lain.

BIDANG PERLAPISAN
Bidang kesamaan waktu, perubahan waktu,
perubahan litologi sepanjang bidang perlapisan.

Ø Keselarasan (Conformity). 

Dua atau lebih urut-urutan lapisan dikatakan selaras jika urut-urutan tersebut merupakan hasil pengendapan yang menerus tanpa adanya keberhentian dalam sedimentasi.

Ø Ketidakselaran (Unconformity). Jika dalam suatu urut-urutan lapisan batuan terdapat suatu umur yang hilang.

Beberapa jenis ketidakselaran :

A. Ketidakselaran menyudut (angular unconformity)

Jika sekelompok lapisan yang berada dibawah membuat suatu sudut dengan perlapisan yang ada diatasnya . Keadaan tersebut mempunyai arti bahwa lapisan-lapisan yang dibawahnya mengalami perlipatan/pemiringan, pengangkatan serta pengerosian, sebelum lapisan yang diatasnya diendapkan. Bidang ketidakselaran disini mewakili waktu lama yang hilang.

B. Ketidak selaran sejajar (disconformity)

Lapisan diatas dan dibawah terletak sejajar satu dengan yang lain, tetapi jelas terdapat suatu bidang erosi . Keadaan tersebut artinya lapisan-lapisan dibawah ketidakselarasan hanya mengalami pengangkatan di ats alas erosi tampa perlipatan.

Jalannya erosi ini dapat berlangsung beberapa tahun sampai ratusan juta tahun sehingga arti dari ketidakselarasan sejajar tergantung dari umur lapisan di atas dan di bawah bidangnya.

C. Nonconformity

Merupakan bidang erosi/ pemisahan antara batuan sedimen yang diatasnya dengan batuan kristalin ( beku atau metamorf). Implikasi dari unconformity adalah mengenai waktu yang hilang ( gambar 5.6)

Cara terjadinya : batuan beku mengintrusi pada batuan lainnya (sedimen), kemudian seluruhnya mengalami pengangkatan dan pengerosian yang cukup dalam/ lama, sehingga batuan diatasnya hilang kemudian baru diendapkan batuan sedimen yang baru.

KETIDAK-SELARASAN

Ø Kontak Intrusi dan Hubungan Umur. 

Suatu intrusi, apakpah intrusi dangkal antau pluton, selalu lebih muda umurnya daripada batuan yang diintrusinya.

Kriteria Kontak Intrusi.

a. Zona pendinginan dalam batuan beku (chilled zone) .

b. Zona pembakaran dalam batuan yang diintrusi (baking effect)

c. Zona metamorfosa kontak dalam batuan yang diintrusi.

Tubuh Inrusi dapat bersifat :

a. Konkordan.

Bentuk tubuh sejajar dengan lapisan yang diatasnya/dibawahnya.

contoh ; sill, lacolith.

b. Diskordan.

Bentuk tubuh memotong perlapisan batuan yang diintrusinya.

contoh ; korok.(dyke), stock, pluton.

Ø Kontak Struktur.

Suatu tubuh atau lapisan batuan dapat bersentuhan dengan sekelompok batuan lain disebabkan persentuhan kartena struktur, terutama diakibatkan oleh patahan (sesar), maka kedua lapisan yang bersentuhan itu tak ada hubungan umur. Suatu patahan/perlipatan dapat ditentukan umurnya jika terpancung oleh ketidakselaran. Patahan dapat berhenti pada bidang kaetidakselaran, yang berarti umur patahan sebelum ketidakselarasan. Pada prinsipnya tidak mungkin lapisan-lapisan di atas bidang ketidakselaran terpatahkan/terlipat sedangkan kelompok batuan dibawahnya tidak ikut terlipat/terpatahkan.


STRUKTUR GEOLOGI

Struktur geologi adalah gambaran bentuk dan hubungan dari keadaan batuan di kerak bumi. Berdasarkan kejadiannya dapat dibedakan adanya struktur primer dan struktur sekunder. Struktur primer terbentuk pada saat pembentukan batuan berlangsung (struktur sedimen, kekar akibat pendinginan, dan struktur perlapisan ), sedangkan struktur sekunder terbentuk akibat pengaruh deformasi batuan oleh gaya tektonik yang bekerja pada batuan tersebut. Struktur geologi yang penting untuk diketahui adalah lipatan (fold), kekar (joint), dan sesar (fault).

Lipatan. 

Lipatan adalah perubahan bentuk dan volume pada batuan yang ditunjukan oleh pelengkungan atau melipatnya batuan tersebut akibat pengaruh suatu gaya yang bekerja pada batuan tersebut. Ukuran lipatan mulai dari beberapa centimeter sampai mencapai puluhan kilometer. Gejala lipatan dapat dilihat langsung di lapangan atau disimpulkan dari beberapa data; umumnya singkapan batuan yang terlihat di lapangan hanya merupakan bagian kecil dari suatu lipatan yang jauh lebih besar. Pada umumnya cerminan pelengkungan ditunjukkan pada perlapisan batuan sedimen atau foliasi batuan metamorf. Pada bentuk lipatan dikenal bagian-bagian yang terdiri dari :




UNSUR GEOMETRI LIPATAN
1. Plunge, sudut yang terbentuk oleh poros dengan horizontal pada bidang vertikal.
2. Core, bagian dari suatu lipatan yang letaknya disekitar sumbu lipatan.
3. Crest, daerah tertinggi dari suatu lipatan biasanya selalu dijumpai pada antiklin
4. Limb (sayap), bagian dari lipatan yang terletak Downdip (sayap yang dimulai dari lengkungan maksimum antiklin sampai hinge sinklin), atau Updip (sayap yang dimulai dari lengkungan maksimum sinklin sampai hinge antiklin). Sayap lipatan dapat berupa bidang datar (planar), melengkung (curve), atau bergelombang (wave).
5. Fore Limb, sayap yang curam pada lipatan yang simetri.
6. Back Limb, sayap yang landai.
7. Hinge Point, titik yang merupakan kelengkungan maksimum pada suatu perlipatan.
8. Hinge Line, garis yang menghubungkan Hinge Point pada suatu perlapisan yang sama.
9. Hinge Zone, daerah sekitar Hinge Point.
10. Inflection point, merupakan titik balik dari suatu lengkungan pada sayap lipatan atau pertengahan antara dua perlengkungan maksimum
13. Trough, daerah terendah pada suatu lipatan, selalu dijumpai pada sinklin.
14. Axial Line, garis khayal yang menghubungkan titik-titik dari lengkungan maksimum pada tiap permukaan lapisan dari suatu struktur lapisan.
15. Axial Plane, bidang sumbu lipatan yang membagi sudut sama besar antara sayap-sayap lipatannya.
16. Half - Wavelength, jarak antara dua titik inflection (inflection points).
Secara umum bentuk lipatan yang terpenting adalah :

1). Antiklin.

Suatu lipatan yang kedua sayapnya berarah kemiringan saling berlawanan.

2). Sinklin.

Suatu lipatan yang kedua sayapnya berarah kemiringan menuju ke arah yang sama.

 Berdasarkan posisi bidang sumbunya lipatan dapat dibedakan menjadi lipatan tegak, lipatan miring dan lipatan rebah. Secara diskriptif berdasarkan bidang sumber dan sayapnya, lipatan dapat disebut lipatan simetri (kedua sudutnya sama besar) dan lipatan asimetri (kedua sudutnya tidak sama besar).

Kekar.

Kekar adalah penamaan untuk struktur rekahan dalam batuan dimana tidaka ada atau sedikit sekali mengalami pergeseran. Rekahan yang telah bergeser disebut sesar. Hampir tidak ada suatu singkapan dimuka bumi yang tidak memperlihatkan gejala rekahan, dan merupakan gejala yang paling umum dijumpai. Dua macam pembentukkan rekahan dapat dibedakan, yakni rekahan tektonik yang berhubungan dengan gaya yang bekerja pada batuan itu sendiri dan rekahan non-tektonik. Kekar dalam batuan sedimen dapat dibentuk mulai dari saat pengendapan atau segera terbentuk setelah pengendapannya sedimen tersebut terbentuk.


  Kekar pada batuan sedimen terlipat berupa rekahkan tektonik. Umumnya terdapat dua perangkat kekar yang saling berpotongan tegak lurus, sedangkan bidang kekarnya lurus pada bidang perlapisan. Arah kekar pada bidang perlipatan umumnya sejajar dengan jurus perlapisan dan yang lainnya sejajar daengan arah kemiringan lapisan. Konsentrasi kekar terbanyak terdapat di bagian puncak lipatan, karena bagian ini paling banyak mengalami gaya selama terlipat (gambar 4.2). Kekar pada batuan sedimen umumnya berhenti pada satu kesatuan lapisan batuan, tetapi adapula yang menerus yang disebut kekar utama (master joint). Dalam batuan beku, kekar terbentuk karena terjadinya proses pendinginan magma. Pada aliran lava sering terbentuk kekar tiang (columnar joint) yang tegak lurus dengan arah pembekuan. Pada batuan intrusi kekar terdapat di bagian pinggirnya akibat pendinginan yang tidak merata. Pada bagian permukaan tubuh batuan beku sering terdapat kekar lembaran (sheet joint) yang terjadi akibat pembebanan. Kekar dekat pada sesar, umumnya terdapat disekitar jalur sesar ; arahnya sejajar dengan jalur sesar atau mungkin memotong sesar dengan sudut kecil atau tegak lurus sesar.

Sesar.

Sesar adalah satuan rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran sehingga terjadi perpindahan antara bagian-bagian yang berhadapan, dengan arah yang sejajar dengan bidang patahan. Ukuran sesar dapat berkisar beberapa centimeter sampai mencapai ratusan kilometer. Jurus dan kemiringan sesar diujur sama seperti pengukuran pada perlapisan batuan sedimen.

Seringkali terdapatnya suatu sesar yang dicerminkan oleh bentuk morfologi setempat sebagai gawir yang merupakan bidang atau sisa dari suatu bidang rekahan. Gawir tersebut dinamakan gawir sesar sedangkan budang rekahannya disebut bidang sesar. Bagian bongkah patahan yang terdapat dibagian atas bidang sesar disebut atap sesar (hanging wall), sedangkan yang berada di bawah bidang sesar dinamakan alas sesar (foot wall). Secara umum sesar pat dibedakan menjadi 3 jenis :



a. Sesar normal / turun

Sesar dimana gerak relatif bongkah atap sesar turun terhadap alas sesar.

b. Sesar naik

Gerak relatif bongkah atap sesar naik terhadap alas sesar.

c. Sesar mendatar

Gerak relatif mendatar pada bagian-bagian yang tersesarkan.

Walaupun beberapa sesar hanya tunggal, tetapi dalam beberapa keadaan dapat merupakan kelompok sesar yang disebut sebagai jalur sesar dan berjarak ratusan atau ribuan kilometer panjangnya.

Lanslide dan Penurunan Permukaan

Landslide(Longsor) atau sering disebut gerakan tanah adalah suatu peristiwa geologi yang terjadi karena pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. Secara umum kejadian longsor disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor pemicu.Faktor pendorong adalah faktor-faktor yang memengaruhi kondisi material sendiri, sedangkan faktor pemicu adalah faktor yang menyebabkan bergeraknya material tersebut. Meskipun penyebab utama kejadian ini adalah gravitasi yang memengaruhi suatu lereng yang curam, namun ada pula faktor-faktor lainnya yang turut berpengaruh:

  • erosi yang disebabkan aliran air permukaan atau air hujan, sungai-sungai atau gelombang laut yang menggerus kaki lereng-lereng bertambah curam
  • lereng dari bebatuan dan tanah diperlemah melalui saturasi yang diakibatkan hujan lebat
  • gempa bumi menyebabkan getaran, tekanan pada partikel-partikel mineral dan bidang lemah pada massa batuan dan tanah yang mengakibatkan longsornya lereng-lereng tersebut
  • gunung berapi menciptakan simpanan debu yang lengang, hujan lebat dan aliran debu-debu
  • getaran dari mesin, lalu lintas, penggunaan bahan-bahan peledak, dan bahkan petir berat yang terlalu berlebihan, misalnya dari berkumpulnya hujan atau salju 
Penurunan Tanah atau Amblesan tanah merupakan proses penurunan muka tanah yg terjadi secara alamiah karena konsolidasi pada lapisan tanah dangkal dan lapisan tanah lunak maupun karena penurunan tekanan air tanah pada sistem aquifer di bawahnya akibat pengaruh kegiatan manusia di atas permukaan tanah dan pengambilan air tanah. 

Penyebab

1. Tambang batubara, terutama metoda penggalian keseluruhan (total extraction) contohnya metoda longwall atau block caving. Tetapi kadang-kadang pada sistemroom and pillar pada kedalaman yang dangkal memungkinkan terjadinya amblesan dan geometri dari amblesan mencerminkan pola pola support yang ada. Adanya spontaneous combustion pada lapisan batubara juga bisa menyebabkan timbulnya amblesan. Amblesan sebagai akibat penambangan biasanya hanya terjadi pada skala kecil (lokal) yaitu di daerah bekas tambang yang bersangkutan saja. Meskipun demikian faktor geologi tetap mempunyai peranan yang penting.

2. Penambangan untuk endapan berlapis (stratiform), contohnya garam, bijih besi, gipsum dll.

3. Pemompaan air tanah, uap geothermal dan minyak bumi yang berlebihan, akan menaikkan efektifitas tekanan dan mengakibatkan kompaksi dan amblesan tanah.

4. Penambangan pada badan bijih yang mempunyai kemiringan yang sangat tajam dan berbentuk pipa

5. Pengeringan pada endapan gambut atau lignite.

6. Akibat tektonik, biasanya peristiwa ini terjadi akibat turunnya bagian bawah dari patahan atau sinklin. Umumnya terjadi sangat lambat walaupun pernah terjadi amblesan sedalam 2 m dalam waktu yang singkat.

7. Beban dari luar.

8. Pelarutan batuan di bawah tanah. Amblesan ini umumnya terjadi akibat proses pelapukan kimia pada batu gamping, dolomite dan gipsum. Pelarutan ini merupakan proses alamiah, tetapi akibat perubahan hidrologi kemungkinan proses pelarutan akan dipercepat sehingga menyebabkan amblesan.

Proses kejadiannya

  Fenomena tanah ambles biasanya terjadi tiba-tiba, walaupun hanya dikenal di tempat-tempat tertentu yang rawan ambles, fenomena ini telah terjadi di seluruh dunia. Awalnya ditandai dengan bocornya pipa-pipa ledeng yang berkarat, itu menandakan tanah berpijak kita sedang amblespertahan, dan suatu hari nanti wuuusss...! Bangunan-bangunan diatasnya akan tersedot kedalamnya dan jalan-jalan akan hancur. Tapi ada juga yang amblesnya bersifat alami bukan karena campur tangan manusia dan hasilnya sangat indah dan menakjubkan

Dampak/akibat

1. Retakan pada dinding batu yang disebabkan oleh tekanan dan tarikan.

2. Mengubah bentuk bingkai pintu dan jendela, dan badan jalan.

3. Bangunan-bangunan tinggi menjadi tidak seimbang atau miring, misalnya chimney, tower transmisi.

4. Masuknya air ke area penambangan.

5. Banjir pada daerah rendah atau menjadi rawa.

6. Kerusakan pada jaringan pipa atau terjadinya aliran balik di dalam pipa.

7. Retakan terbuka sampai ke permukaan tanah akan mengakibatkan rusaknya konstruksi di atasnya.

8. Perubahan pola aliran permukaan dan air tanah.

Upaya/usaha penanggulangan

· Pengawasan yang melekat mengenai amblesan tanah

· Perlunya tenaga teknik spesifik yang berkompeten dalam bidang amblesan tanah,

· Pemanfaatan sediment sungai untuk mendapatkan nilai ekonomisnya (pengurugan dsb)

· Tata ruang kita belum mengakomodasi Potensi Sumberdaya Air menyeluruh.

· Pengelolaan pesisir yang terkoordinasi baik antar instansi satu kabupaten maupun antar kabupaten dengan memperhatikan factor hidrologi dan geologi.

· Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam bidang kebencanaan.

Umur bumi dan tata surya matahari

  • Sejauh ini para ilmuwan tidak menemukan cara yang tepat untuk menentukan umur bumi secara langsung dari batu bumi , karena bebatuan tertua bumi telah didaur ulang dan dihancurkan oleh proses lempeng tektonik. Jika ada salah satu batu-batu purba Bumi yang tersisa dalam keadaan asli mereka, mereka belum ditemukan. Namun demikian, para ilmuwan telah dapat menentukan usia mungkin tata surya dan untuk menghitung usia bumi dengan mengasumsikan bahwa bumi dan seluruh tubuh padat dalam Tata Surya terbentuk pada waktu yang sama dan, karenanya, dari usia yang sama. 
  • Batuan kuno yang kira-kira berusia melebihi 3,5 miliar tahun ditemukan di semua benua bumi. Batu tertua di Bumi yang ditemukan sejauh ini adalah Acasta Gneisses di barat laut Kanada dekat Danau Great Slave (4,03 Ga) dan batuan Isua Supracrustal di West Greenland (3,7-3,8 Ga), tapi diteliti dengan baik batuan tua hampir sama juga ditemukan dalam Sungai Minnesota Valley dan utara Michigan (3.5-3.7 milyar tahun), di Swaziland (3.4-3.5 milyar tahun), dan di Australia Barat (3.4-3.6 milyar tahun). [Lihat Catatan Editor.] Batuan kuno ini telah tanggal oleh sejumlah metode penanggalan radiometrik dan konsistensi hasil para ilmuwan memberikan keyakinan bahwa usia yang tepat dalam beberapa persen. Sebuah ciri menarik dari batu-batuan kuno ini adalah bahwa mereka bukan dari jenis “primordial kerak” tetapi aliran lava dan sedimen diendapkan dalam air dangkal, merupakan indikasi bahwa sejarah Bumi dimulai jauh sebelum batu-batu ini diendapkan.
  • Di Western Australia, satu kristal zirkon yang ditemukan di batuan sedimen yang lebih muda memiliki umur radiometrik sebanyak 4,3 miliar tahun, membuat kristal kecil ini bahan-bahan yang tertua yang bisa ditemukan di Bumi sejauh ini. Sumber batu kristal zirkon tersebut belum ditemukan. Diukur untuk usia tertua bumi bebatuan dan kristal tertua menunjukkan bahwa paling tidak usia Bumi 4,3 miliar tahun tetapi tidak mengungkapkan persis usia pembentukan bumi. Usia terbaik untuk Bumi (4,54 Ga) didasarkan pada batu tertua, dugaan mengarah satu-tahap digabungkan dengan rasio Pb troilite dari besi meteorit, terutama meteorit Diablo Canyon.

  • Selain itu, mineral butir (zirkon) dengan U-Pb usia sekitar 4.4 Ga baru-baru ini dilaporkan dari batuan sedimen di barat-tengah Australia. Bulan adalah planet yang lebih primitif dari Bumi karena belum terganggu oleh lempeng tektonik; demikian, beberapa batu yang lebih kuno yang lebih banyak. Hanya sejumlah kecil dari batu-batu itu kembali ke Bumi oleh Apollo enam dan tiga misi Luna. Batu ini sangat bervariasi dalam usia, merupakan cerminan dari usia mereka yang berbeda pembentukan dan sejarah berikutnya. Bulan saja mempunyai usia antara 4,4 dan 4,5 miliar tahun dan memberikan usia minimum untuk pembentukan planet tetangga terdekat kita. Ribuan meteorit, yang merupakan pecahan dari asteroid yang jatuh ke bumi, telah ditemukan. Objek primitif ini memberikan umur yang terbaik untuk saat pembentukan tata surya. Ada lebih dari 70 meteorit, dari berbagai jenis, usia yang telah diukur dengan menggunakan teknik penanggalan radiometrik.
  •  Hasil penelitian menunjukkan bahwa meteorit, dan karena itu tata surya, terbentuk antara 4,53 dan 4.58 miliar tahun yang lalu. Umur yang terbaik untuk Bumi tidak berasal dari individu bebatuan tapi dengan mempertimbangkan Bumi dan meteorit sebagai bagian dari sistem yang berkembang yang sama di mana komposisi isotop timah, khususnya rasio timah-207 untuk memimpin-206 berubah seiring waktu karena yang peluruhan radioaktif uranium-235 dan uranium-238, masing-masing. Para ilmuwan telah menggunakan pendekatan ini untuk menentukan waktu yang dibutuhkan untuk isotop di Bumi tertua bijih timah, yang hanya ada beberapa, untuk berevolusi dari komposisi primordial, yang diukur dalam fase bebas uranium besi meteorit, ke dalam komposisi di saat ini bijih timah dipisahkan dari mantel mereka waduk. Hasil perhitungan ini dalam zaman untuk bumi dan meteorit, dan karenanya Tata Surya, dari 4.54 milyar tahun dengan ketidak pastian kurang dari 1 persen.
  • Tepatnya, usia ini merupakan kali terakhir yang mengarah melalui isotop yang homogen Tata Surya bagian dalam dan waktu yang mengarah dan uranium itu dimasukkan ke dalam tubuh padat Tata Surya. Usia 4.54 milyar tahun ditemukan untuk tata surya dan Bumi kita konsisten dengan perhitungan saat ini 11 hingga 13 miliar tahun untuk usia Galaxy Bima Sakti (berdasarkan tahapan evolusi bintang gugus bola) dan usia 10 hingga 15 milyar tahun untuk usia Alam Semesta (berdasarkan resesi galaksi jauh).
  • Berdasarkan penghitungan dengan metode analisis radioaktif, diketahui bahwa batuan di Bulan, meteorit, dan batuan Bumi tertua yang pernah ditemukan berusia sekitar 4,6 miliar tahun. Namun, sampel batuan Matahari belum pernah didapatkan, sehingga penghitungan dilakukan secara matematika menggunakan model interior Matahari.
  •  Berdasarkan hasil penghitungan matematika, umur atau usia Matahari diperkirakan 1,5 miliar tahun. Namun, karena tata surya diketahui terbentuk sebagai satu kesatuan dalam waktu yang berdekatan, maka sekarang secara umum Matahari dianggap berusia 4,6 miliar tahun.
  • Matahari termasuk bintang tipe GV, dengan ciri memiliki suhu permukaan sekitar 6.000 K, dan umumnya bertahan selama 10 miliar tahun. Usia Matahari diperkirakan sekitar 7 miliar tahun lagi, sebelum hidrogen yang terdapat di bagian intinya habis. Jika hal itu terjadi, Matahari akan berekspansi menjadi bintang raksasa berwarna merah yang dingin, dan “menelan” planet-planet kecil di sekitarnya (mungkin termasuk Bumi) sebelum akhirnya kembali menjadi bintang kerdil berwarna putih kembali.